Pages

Sabtu, 13 Desember 2014

Air di Bulan dan Bumi Berasal dari Satu Sumber



Sebuah temuan baru dari para peneliti menunjukkan kemungkinan bahwa air yang terdapat di Bulan memiliki sumber yang sama dengan air yang terdapat di Bumi.
Penampang Bulan
Para ilmuwan menemukan bahwa tetesan air yang tersimpan di batuan yang dibawa kembali dari perjalanan ke Bulan identik dengan level kimia dari contoh Bumi kuno. Batuan yang digunakan dalam penelitian itu berasal dari perjalanan Apollo 15 pada 1971 dan Apollo 17 pada 1972.
Tetesan air di batuan itu ditemukan terjebak dalam kristal-kristal di dalam batu, yang membuat tetesan air itu terlindung dari erupsi vulkanik. Hal ini membuat air itu awet selama bertahun-tahun dan memberikan pada para ilmuwan kesempatan melihat kembali sejarah terbentuknya Bulan.
Bulan diduga terbentuk dari piringan puing yang tersisa ketika sebuah benda raksasa berupa meteorit menghantam Bumi pada 4,5 miliar tahun lalu. Puing-puing tabrakan itu akhirnya membentuk Bulan, dan panas yang berasal ledakan itu gagal untuk menguapkan semua air, maka beberapa air terjebak di dalam bebatuan.
Hanya saja belum lama ini, pesawat antariksa AS dan penelitian baru mengenai sampel dari misi Apollo memperlihatkan Bulan sesungguhnya memiliki air, baik di permukaan maupun di bawahnya.
Alberto Saal, ahli geokimia di Brown University di Providence, Rhode Island, AS, yang juga merupakan pemimpin peneliti studi tersebut, mengatakan bahwa penjelasan paling sederhana ialah ada air di proto-Bumi saat dampak raksasa itu terjadi.
"Sebagian air tersebut bertahan terhadap dampak tersebut, dan itulah yang kita lihat di Bulan," kata Saal seperti dilansir DailyMail.
Untuk menemukan sumber air tersebut, Saal beserta timnya mengandalkan jejak kimia, jumlah deuterium dan hidrogen, isotop hidrogen dengan netron tambahan.
Mereka kemudian mendapati rasio deuterium-hidrogen pada sampel debu Bulan yang dibawa pulang oleh awak Apollo 15 dan Apollo 17 relatif rendah dan cocok dengan rasio yang ditemukan pada asteroid purba yang dijuluki carbonaceaus chondrites.
Tetesan air di batuan tersebut memiliki sejumlah kecil deuterium, berarti bahwa air itu berasal dari planet yang dekat dengan Matahari. Sementara struktur kimia pada dasarnya serupa dengan meteor yang menabrak Bumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Sample text

Sample Text